UPACARA BERSIH DESA MBAH BREGAS


Upacara Bersih Desa Mbah Bregas diselenggarakan oleh masyarakat petani di pedukuhan Ngino XII, Ngringin, Margoagung, Seyegan, Sleman. Upacara ini bertujuan untuk menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan petani dan juga permohonan agar keberhasilan petani berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Di samping alasan masyarakat Ngino, khususnya petani menyelenggarakan upacara adat ini untuk melestarikan adat dan tradisi yang turun-temurun. Karena itu untuk menjaga agar tidak terjadi penyimpangan adat dan tradisi, pelaksanaan upacara ini diharapkan berkesinambungan.
Upacara dimulai sehari sebelum hari Jumat Kliwon. Saat puncak pelaksanaan upacara adat Bersih Desa Mbah bregas. Upacara diawali dengan ziarah kubur dan setelah maghrib di adakan tahlilan, bertempat di Bangsal (balai dusun).
Pada malam hari sekitar pukul 19.00 – 19.30 dilakukan persiapan penataan pengambilan air di Sendang Planangan. Personil pengambil air terdiri dari Ki Jagabaya sebagai pimpinan diikuti oleh sepuluh orang perabot desa; pembawa klenthing (tempat air) tujuh orang wanita, ulama, rombongan selawat; rombongan pembawa granggang (bamboo runcing), yang semuanya didampingi pembawa obor sebanyak dua puluh orang.
Setelah semua persiapan selesai, rombongan pengambilan air ke Sendang Planangan diberangkatkan. Rombongan dipimpin Ki Jagabaya, dan seorang Pandhega sebagai komandan barisan. Di Sendang Planangan, pembawa klenthing untuk mengisi air mengikuti Ki Jagabaya. Ki Jagabaya sebagai pimpinan rombongan, meminta kepada Ki Juru Warih untuk mengambil air di Sendang Planangan :
“Kepareng matur ki Juru Warih ing Sendang Planangan, awit minangkani panyuwunanipun para warga niat badhe ngalap berkah lekasipun Eyang Bregas ingkang agung lelana broto remen tetulung dhateng sak sintena kemawon ingkang mbetahaken pitulungan kanthi sarana mendhet tirta ing Sendang Planangan. Mekaten atur kulo mugi ndadosna ing pemerso”.
Terjemahan :
“Perkenankan kepada Ki Juru Warih menyampaikan permohonan warga yang berkehendak mengambil air di Sendang Planangan dengan niat mendapatkan restu Eyang Bregas yang bertapa, suka menolong kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan dengan cara mengambil air Sendang Planangan. Begitulah kami menyampaikan permohonan warga dan mohon dimaklumi.”
Setelah Ki Jagabaya menyampaikan permintaan warga dan mengutarakan niat warga, Ki Juru Warih memerintahkan Ki Jagabay untuk mempersiapkan klenthing yang jumlahnya tujuh wadah air, yang dimaknakan sebagai berikut :
Tirta (air) Panggesangan (=kehidupan)
Tirta Kasucen (=kesucian, kemurnian)
Tirta Usada (=kesehatan, penyembuhan)
Tirta Kamulyan (=kemuliaan, kebahagiaan)
Tirta Kasuburan (=kesuburan)
Tirta katentreman (=ketentraman)
Tirta Karukunan (=kerukunan).
Selama pengambilan air dilakukan, para santri yang menyertai membaca tahlil. Pembacaan tahlil ini atas perintah Ki Juru Warih. Para santri berhenti membaca tahlil setelah semua klenthing yang berjumlah tujuh buah berisi Sendang Planangan. Ki Jagabaya pun mengucapkan terima kasih kepada Ki Juru Warih dan mohon pamit, kembali untuk menyampaikan laporan kepada Ki Lurah bahwa tugas pengambilan air di Sendang Planangan telah dilaksanakan. Klenthing yang berisi air Sendang planangan disimpan di rumah Kepala Dusun XII dan akan dikirabkan pada pelaksanaan upacara siang harinya, hari Jumat. Air yang diambil dari Sendang Planangan itu disebut Tirta Saptomulyo (karena mengandung tujuh nilai/rasa sperti disebutkan di atas).
Pada keesokan harinya, Jumat, sebelum pelaksanaan upacara (prosesi upacara), pagi hari sekitar pukul 09.00 – 12.00 siang diadakan pergelaran wayang kulit di rumah Kadus XII Ngino. Setelah waktu Sholat Jumat selesai sekitar pukul 14.00 – 15.00 peserta upacara harus sudah siap di halaman Balai Dusun.
Para peserta upacara adalah :
Canthang balung (trah)
Pandhega Tama dan Ki Jagabaya disertai pendamping dan pembawa payung.
Cucuk lampah (=penunjuk jalan) sepuluh orang putra dan sepuluh orang putri.
Kembar Mayang sepasang dibawa oleh dua orang perempuan tua.
Kambil ijo sepasang (kelapa hijai) dibawa dua orang perempuan tua.
Peraga manten satu pasang.
Peraga Wali
Ancak (tempat) sesaji yang dibawa empat orang.
Jodhang wiwitan yang dibawa empat orang.
Santri (kejawen) dua puluh orang.
Perangkat desa dan kecamatan.
Air tujuh klenthing dipikul empat belas orang.
Punggawa Mbah Bregas tiga puluh orang.
Ingkung bebek antara 3 – 5 dibawa dengan ancak.
Gunung wulu wetu (hasil bumi) terdiri dari pala kependhem (paling bawah), pala kesimpar (ditengah), pala gumandul (paling atas). Gunungan wulu wetu ini dipikul empat orang.
Jathilan sekitar dua puluh lima orang.
Setelah segala persipan upacara selesai dipersiapkan, prosesi upacara dimulai berangkat dari rumah kadus XII Ngino menuju ke Balai Dusun Ngringin. Sesampainya di Balai Dusun Ngringin, Pandhegatama melapor kepada Ki Jagabaya, yang pada intinya semua pengiring dari Rumah Kadus XII Ngino sampai ke Balai Dusun semuanya selamat. Ki jagabaya menerima laporan Pandhegatama. Kemudian Ki Jagabaya melapor kepada Pengageng upacara, antara lain :
“Dhumateng pengagenging upacara sesaji Eyang Bregas, aturuninga bilih sedaya warga ing kukupan Pasar Ngino, minggahing Seyegan niat badhe atur panuwun dhumateng Gusti awit tansah ginanjar kamulyan, kesarasan, karukunan, kasuburan, katentreman, kagesangan saha kasucen kados ingkang kagambar ing Tirta Saptomulyo niat badhe nulat lekasipun Eyang Bregas ingkang sampun murut kasedan jati, arsa asung pinungsung ingkang sampun kula cawisaken”.
Terjemahan :
“Kepada pemimpin upacara sesaji eyang Bregas, kami sampaikan bahwa seluruh warga Pasar Ngino dan Seyegan pada umumnya dengan maksud untuk mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan anugerah, kemuliaan, keselamatan, kerukunan, kesuburan, ketentreman, kehidupan, dan kesucian seperti dilambangkan dalam Tirta Saptomulyo, berniat melaksanakan pesan Eyang Bregas, yang telah mukswa”.
Semua yang telah disampaikan Ki Jagabaya tadi, diterima oleh pengageng upacara sesaji Eyang Bregas. Pengageng upacara pun memberitahukan maksud warga Ngino kepada para peserta upacara seperti yang dilaporkan Ki jagabaya. Dalam kesempatan ini pula dibacakan riwayat Mbah Bregas. Untuk melengkapi upacara Bersih Desa Mbah Bregas, digelasr kesenian, antara lain beksan kasar, Sinom Weni Kenya, dan sebagainya. Setelah selesai disampaikan sambutan Bupati Kabupaten Sleman. Mengakhiri seluruh rangkaian prosesi upacara Bersih Desa Mbah Bregas, pemotongan tumpeng dilanjutkan kembul boja (makan bersama).