Petilasan Mbah Bregas

Pada waktu Kerajaan Majapahit runtuh banyak bangsawan kerabat Kerajaan Majapahit yang pergi meninggalkan Majapahit. Salah satu di antara kerabat itu adalah Mbah Bregas. Nama ini bukan nama sebenarnya. Sebutan Mbah Bregas digunakan untuk menghilangkan jejak kebangsawanannya. Untuk itu pula Mbah Bregas kemudian bertapa di suatu tempat yang sekarang disebut Ngringin.

Ia menjalankan tapanya di bawah naungan pohon beringin dan dikelilingi oleh semak-semak. Berapa lama Mbah Bregas melakukan tapa di Ngringin tidak ada orang yang memastikan. Tetapi yang jelas di tempat ini Sang pertapa menjalankan darma baktinya kepada sesama. Darma bakti Sang Pertapa ini dilakukan dengan ikhlas. Keikhlasannya dalam menjalankan darma baktinya, mengangkat nama Mbah Bregas Sang pertapa dikenal tidak saja di tempat ia tinggal, tetapi juga didengar sampai ke daerah-daerah lain.

Nama Mbah Bregas mulai disebut-sebut sejak zaman perang antara Pajang-Mataram. Dalam perang itu Panembahan Senopati dibantu Kanjeng Ratu Kidul. Akibat bantuan Kanjeng Ratu kidul timbul wabah yang mencemaskan rakyat (kawula). Kecemasan ini dimunculkan rasa takut karena dihantui kematian. Namun demikian bagi warga tempat tinggal Mbah Bregas, tetap bagas waras berkat Sang Pertapa. Sejak itulah sebutan Mbah Bregas (bagas, waras) dikenakan kepada Sang Pertapa hingga keturunannya sampai sekarang.

Keberadaan Mbah Bregas itu membawa perubahan struktur lingkungan, penghuni dan juga budaya. Nama Mbah bregas yang dikenal di mana-mana ini, hingga akhirnya didengar oleh Sunan Kalijaga. Mendengar nama Mbah bregas ini, Sunan Kalijaga datang untuk menemuinya. Atas kedatangan Sunan kalijaga ini, Mbah Bregas menerima dan diajaknya di suatu tempat yang sekarang disebut Kramat. Di Kramat ini Sunan Kalijaga dengan Mbah Bregas mengadakan pembicaraan sambil menikmati jamuan kinang (daun sirih). Tempat pertemuan Sunan Kalijaga dan Mbah Bregas ini kemudian disebut Ngino (perubahan dari kata nginang).

Dalam pelaksanaan upacara Bersih Desa, petilasan Mbah Bregas digunakan pusat kegiatan upacara.