MUBENG RINGIN MBAH BERGAS

Pohon beringin merupakan tempat yang dikeramatkan, karena dahulu di gunakan untuk bertapa Mbah Bregas. Pohon beringin yang merupakan peninggalan Mbah Bregas ada dua yaitu pertama, pohon beringin yang bekas inang Mbah Bregas yang terletak di depan pendopo dan sekarang untuk kirab atau mubeng ringin pada saat ada pernikahan dan upacara adat bersih desa Mbah Bregas. Kedua, Pohon beringin yang berada di dalam Si Keramat yang terletak di tengah alas yang dulu sebagai tempat semedi atau meditasi Mbah Bregas. Pohon beringin yang pertama memiliki diameter kira-kira 5m.

Pada sekitar tahun 1955/1956, pohon beringin yang pertama tersebut ngurak (mati) karena usia yang sudah tua. Setelah itu ditanam pohon beringin pengganti, yaitu pada Jum’at Kliwon. Ketika suatu hari pada malam Jum’at Kliwon diadakan pengajian di Balai Ngringin dan hari Jum’at pagi diadakan wayang. Esok harinya diadakan bersih- bersih dan sekitar jam 13.00 pohon beringin tersebut terbakar dan tidak ada yang mengetahui darimana asal api tersebut.Selama beberapa hari api tersebut masih menyala dan tidak ada se-orang pun yang sanggup memadamkannya. Beringin tersebut hangus dan abunya yang menumpuk dan berbentuk menyerupai gunung. Abu dari pohon beringin yang terbakar tersebut banyak diambil orang untuk digunakan sebagai pupuk dan obat. Masyarakat mempercayai bahwa dengan menggunakan abu sebagai pupuk maka hasil panen akan me-limpah.Masyarakat di daerah Ngino dan sekitarnya jika ada pernikahan maka kedua mempelai melakukan ritual mubeng ringin atau berjalan mengelilingi pohon beringin dengan berlawanan jarum jam sebanyak tiga kali.

Makna yang terkandung dalam ritual mubeng ringin adalah sebagai ucapan terimakasih, permohonan dan perkenalan bahwa telah terjadi pernikahan. Selain itu ada juga kepercayaan bahwa saat berjalan mengelilingi beringin tersebut bermakna taat kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri sesuai dengan yang diperintahkan dalam surat An Nisa ayat 59. Namun yang perlu ditekankan bahwa pohon beringin di dusun Ngino ini adalah lambang pengayoman bagi seluruh warga yang terdiri atas pelbagai kepercayaan.

Sumber: Mitos Mbah Bregas Di Dusun Ngino Desa Margoagung Seyegan Sleman Yogyakarta (Studi Terhadap Klasifikasi, Pandangan Dan Fungsi Mitos), Iftahuul Mufiani, Religi, Vol. XI, No. 2, Juli 2015: 17 – 45